Ada satu kabar yang mungkin membuat El Nino sedikit kecewa.

Ia datang membawa musim kemarau, berharap warga Makassar mulai akrab dengan ember, jeriken, dan doa setelah salat agar air segera mengalir. Tapi rupanya, di beberapa sudut Kota Makassar, rencananya tidak berjalan mulus.

Di kawasan utara kota, yang selama bertahun-tahun sering merasa menjadi “anak tiri” urusan air bersih, kini keran tetap bernyanyi. Air PDAM mengalir, padahal kemarau sedang serius-seriusnya bekerja.

Dulu, kalau cuaca seperti sekarang, keran di rumah saya di Utara kota lebih sering berlatih puasa daripada mengeluarkan air. Membuka keran hanya menghasilkan suara angin yang lebih fasih daripada air. Warga sudah hafal jadwal air yang datangnya lebih misterius daripada jadwal mantan memberi kabar.

Sekarang suasananya berbeda. Entah mantra apa yang dipakai, entah rumus fisika apa yang ditemukan, atau memang ada tangan dingin yang bekerja, yang jelas di masa kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, persoalan yang bertahun-tahun dianggap biasa itu perlahan berubah menjadi cerita lama.

Konon, PDAM melakukan rekayasa distribusi air ke wilayah utara kota. Istilahnya memang “rekayasa”. Yang penting jangan direkayasa hanya datanya, tetapi benar-benar airnya yang sampai ke rumah warga. Dan sejauh ini, warga lebih percaya pada bunyi air di keran daripada janji-janji di musim politik.

Kalau begini terus, mungkin El NiƱo harus mengajukan protes. Sudah datang jauh-jauh membawa kemarau, ternyata dikalahkan oleh pipa distribusi yang akhirnya bekerja lebih adil.

Semoga air bersih yang kini mengalir bukan sekadar kabar musiman, tetapi menjadi kebiasaan baru.

Sebab bagi warga, air yang mengalir setiap hari jauh lebih menenangkan daripada seribu konferensi pers tentang pelayanan publik.