Soppeng, Antitesata.com, Kritik terhadap pemerintah maupun pemegang kekuasaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Kritik semestinya dijawab dengan argumentasi dan perbaikan kebijakan, bukan dibalas dengan tekanan yang justru menyasar keluarga pengkritik.
Pesan tersebut disampaikan Arham MSi La Palellung dari LAK-HAM Indonesia. Ia mengingatkan agar perbedaan sikap maupun keberanian menyampaikan kritik tidak dijadikan alasan untuk menekan anggota keluarga pengkritik, khususnya mereka yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Menurutnya, kritik harus ditempatkan secara proporsional. Ketika seseorang mempertanyakan atau mengkritisi sebuah kebijakan, maka yang seharusnya dijawab adalah substansi kebijakan tersebut, bukan pekerjaan, karier, maupun posisi anggota keluarganya.
“Kritik ditujukan kepada kebijakan, bukan pekerjaan keluarganya. Jangan jadikan ASN sebagai bayang-bayang tekanan hanya karena keluarganya berani bersuara,” tegasnya. Sabtu (12/9/2026).
Ia menilai, demokrasi akan kehilangan makna apabila kritik justru melahirkan rasa takut. Apalagi jika tekanan tidak diberikan langsung kepada orang yang menyampaikan kritik, tetapi diarahkan kepada keluarganya yang tidak memiliki kaitan dengan pernyataan tersebut.
“Pengkritiknya boleh diajak berdebat. Tetapi jangan keluarganya yang bekerja sebagai ASN dibuat merasakan panjangnya tangan kekuasaan,” ujarnya.
Arham menegaskan, kekuasaan justru diuji ketika berhadapan dengan kritik. Pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang membuat semua orang takut berbicara, melainkan pemerintahan yang mampu menerima kritik, menjawabnya secara terbuka, dan membuktikan kinerjanya melalui kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
“Kekuasaan diuji ketika dikritik, bukan ketika semua orang memilih diam,” katanya.
LAK-HAM Indonesia juga menyoroti sejumlah bentuk tekanan yang berpotensi muncul ketika keluarga seorang pengkritik bekerja sebagai ASN, mulai dari intimidasi, tekanan psikologis, mutasi, diskriminasi hingga ketidakadilan dalam lingkungan kerja.
Karena itu, independensi dan profesionalitas ASN harus tetap dijaga. ASN tidak semestinya menjadi alat tekanan akibat sikap politik, kritik, atau aktivitas sosial anggota keluarganya.
“Karena integritas tak pernah sendirian.” tandasnya.
(Tim)


Tinggalkan Balasan