Wajah selatan Gaza yang biasanya kelabu oleh debu mesiu, perlahan mulai berganti warna. Di lingkungan Abu Sufyan, Khan Younis, pemandangan kontras tersaji: lentera warna-warni kini bergelantungan di antara retakan beton bangunan enam lantai yang luluh lantak.
Anak-anak Palestina dengan tangkas memanjat sisa-sisa dinding yang hancur. Bukan untuk mencari perlindungan dari serangan udara, melainkan memasang kabel hias di antara tenda pengungsian dan puing bangunan. Inilah momen Ramadan pertama pasca-gencatan senjata yang mengakhiri perang brutal selama dua tahun terakhir.
Bagi warga setempat, memasang dekorasi bukan sekadar ritual musiman atau hiasan mata. Ini adalah pernyataan politik dan kemanusiaan –sebuah upaya keras untuk merebut kembali kedaulatan atas kehidupan mereka yang sempat dirampas perang.
Menantang Kegelapan dengan Generator Kecil
Setelah berbulan-bulan pemandangan hanya didominasi oleh abu dan puing, spanduk bertuliskan ‘Ramadan Mubarak’ dan ‘Selamat Datang Bulan Suci’ kini menghiasi gang-gang sempit yang masih menyisakan bekas pengeboman. Lampu merah dan kuning berusaha menembus cakrawala kelabu dari bangunan-bangunan yang retak.
Ironisnya, cahaya ini ditenagai oleh generator kecil yang hanya mampu menyala beberapa jam setiap malam. Maklum, Israel masih membatasi pasokan bahan bakar meski gencatan senjata sudah berlaku.
“Tradisi ini tidak pernah berhenti, bahkan ketika segala sesuatunya runtuh,” ujar Yasser Al-Sattari, seorang warga lokal yang harus kehilangan rumah, istri, dan saudara perempuannya dalam konflik tersebut, sebagaimana dikutip dari Anandolu Agency, Rabu (18/2/2026).
Sattari menegaskan, meski hatinya hancur, kegembiraan Ramadan bagi anak-anak tidak boleh dirampas oleh siapa pun.
Perjuangan warga Gaza untuk menyambut Ramadan kali ini sangatlah berat. Dua Ramadan sebelumnya dilewati di bawah hujan bom dan jeratan kelaparan. Kini, meski suara ledakan mulai mereda, tantangan infrastruktur menjadi tembok besar.
Data menunjukkan kehancuran sektor kelistrikan di Gaza mencapai angka yang fantastis, yakni US$1,4 miliar. Lebih dari 5.000 kilometer jaringan listrik hancur dan 2.000 transformator rusak permanen. Israel tetap memutus pasokan listrik utama, memaksa warga hidup dalam kegelapan yang panjang.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Secara formal, gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat (AS) telah berlaku sejak 10 Oktober 2025. Perang ini meninggalkan jejak berdarah dengan lebih dari 72.000 korban jiwa –sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak– serta melukai 171 ribu orang lainnya.
Namun, di atas kertas, perdamaian ini masih sangat rapuh. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya sudah terjadi ratusan pelanggaran oleh pasukan Israel melalui tembakan artileri yang menewaskan sedikitnya 603 warga Palestina pasca-kesepakatan.
Meski situasi masih jauh dari kata aman, warga Abu Sufyan tetap memilih menyalakan lentera mereka. Bagi mereka, setiap lampu yang menyala adalah simbol ketahanan (sumud) dan bukti bahwa kehidupan di Gaza menolak untuk padam.


Tinggalkan Balasan